Sabtu, 22 Oktober 2011

Tak ada Perang jika Aceh Sekuat Abad XVI

DUNIA telah mengaduk kehidupan dalam sebuah blender waktu sehingga segala zaman nyaris tak dapat diidentifikasi jika peristiwa-peristiwa dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, kaum, suku dan bangsa baik dalam konteks sektoral, wilayah, daerah atau global tidak dicatat.
Catatan adalah sebuah penandaan yang bercerita. Bisa melalui tulisan di kertas, buku atau ukiran di batu, juga bisa berupa produk seni dan kebudayaan yang berwujud material seperti karya pahatan, bangunan tinggal atau rumah publik dan alat-alat yang digunakan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari serta lain sebagainya.
Dunia telah mengaduk kehidupan dalam sebuah molen masa sehingga usia semesta nyaris tak dapat dihitung jika tak ada catatan atau produk material budaya semasa sebagai bukti untuk menentukan angka-angka buat tahun zaman dan era waktu atau untuk kepentingan referensi lainnya.
Dari pembagian perjalanan ketatkalaan, di situ manusia membaca estafet perubahan dan warna perkembangan untuk disarikan dalam sebuah inovasi melalui pergumulan olah pikir terkini. Orang bijak bilang, sejarah bukan untuk dihafal, tapi untuk diinterpretasi agar hakikat-hakikat tersembunyi bisa tergali.
“Intinya, manusia belajar dari masa lalu,” kata Said Safwatullah, SH., Staf Advokasi Pos Bantuan Hukum Hak Azasi Manusia (PB-HAM) Pidie kepada Harian Aceh di Sigli, Sabtu (26/3). “Aceh yang penuh semangat penghargaan atas hak-hak privaci dan azasi orang lain pada hari ini, adalah Aceh yang belajar dari sejarah penistaan hak-hak privaci dan azasi oleh kegairahan kolonialisme Belanda pada zaman dahulu dan semangat sentralistik Jakarta pada masa kemarin itu.”
Sehubungan dengan hari Sabtu, 26 Maret 2011 sebagai sebuah penanda interval 138 tahun peristiwa deklarasi perang Belanda terhadap Aceh (1873-1914), Safwatullah mengatakan, peperangan timbul karena kelemahan satu pihak. Tak ada perang bagi dua kekuatan yang seimbang. Dalam perseteruan nilai-nilai kompetisi yang sama kuat, maka di situ hanya ada kolaborasi atau koalisi.
Kemudian lanjut pemuda berusia 33 tahun asal Gampong Meunasah Babah Jurong, Kembang Tanjong, Pidie, itu seandainya pada abad delapan belas Aceh masih sewibawa abad enam belas, jangankan datang untuk memerangi, bermimpi untuk injak kaki pun Belanda takkan berani di tanah Indatu.
Kenapa saat itu mereka berani memerangi Aceh? “Itu karena mereka tahu kita akan kalah. Dan prediksi itu memang benar meski dengan biaya perang yang nyaris membangkrutkan Netherland sekalipun,” ulas Said. Sudah menjadi langgam kebiasaan dalam dunia perseteruan manusia, bahwa perang selalu dimenangkan oleh perancangnya.
Hendaknya Aceh hari ini dan ke depan adalah bukan lagi Aceh yang lemah. Untuk menghindari perang, Aceh harus kuat; dalam segala lini. Dan kekuatan yang paling utama adalah berangkat dari penyatuan. Dan penyatuan hanya akan ada dalam sebuah bangsa di mana setiap komunitas dan individu saling menghargai komunitas dan individu lainnya setinggi penghargaan atas diri sendiri.
“Dan semua bentuk penyatuan serta kesatuan adalah berangkat dari semangat penghargaan kita akan Hak Azasi orang lain (HAM), terutama HAM dalam perspeksi islamiah,” pungkas Said

http://harian-aceh.com/2011/03/28/tak-ada-perang-jika-aceh-sekuat-abad-xvi

JANGAN LUPA