Rabu, 04 Januari 2012

Dokarim, Pengarang Hikayat Prang Compeuni

Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Dalam sastra Melayu, yang disebut hikayat adalah karya sastra yang berbentuk prosa. Di Aceh, uraian tentang perang sabil disajikan dalam bentuk hikayat. Meskipun demikian, beberapa di antaranya ada yang disajukan dalam bentuk prosa.
Pemakluman perang serta serangan-serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda mengakibatkan Dalam (istana) Aceh jatuh ke pihak Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, setelah pada serangan pertama April 1873 gagal karena dilanda kekalahan. Belanda menyangka bahwa dengan menguasai Dalam dan sebagian daerah Aceh Besar serta dengan secarik kertas proklamasi sudah cukup untuk membuat negeri Aceh yang lebihnya tunduk kepada Belanda. Yang terjadi adalah perlawanan Aceh bertambah meningkat.
Tuanku Hasyim dan para pemimpin sagi di Aceh Besar menjelaskan kepada pemimpin-pemimpin Aceh yang lain. Dalam suratnya yang tertanggal 18 April 1874 kepada Imum Chik Lotan, raja Geudong, Pasai, Aceh Utara, Tuanku Hasyim bersama Sri Muda Perkasa Panglima Polem, Sri Muda Setia dan Sri Setia Ulama, menulis antara lain sebagai berikut : “…Demikianlah halnya, maka negeri yang sudah kebinasaan empat mukim, pertama Lheu dan Masijid Raya, Masijid Lueng Bata dan Gigieng dengan Lhok Gulong dan takluk setengah mukim orang Meuraksa, maka lain daripada itu Insya Allah Taala tiada ubah kepada Allah dan Rasul melainkan melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyirupun melawan juga, demikianlah pakatan orang tiga sagi dan ulama-ulama dan haji-haji dan sekalian muslimin, maka sekarang pun jikalau ada yakin saudara kami akan Allah dan Rasul dan akan agama Islam mendirikan syariat Muhammad dan bersaudara dengan kami semuanya dalam Aceh maka hendaklah saudara kami melawan dengan sekuat-kuat melawan mudah-mudahan terpelihara syariat Muhammad agama Islam dan nama agama bangsa Aceh adanya.”
Surat senada juga ditulis oleh pemimpin lain. Pada bulan Desember 1877, Teungku Muhammad Amin Dayah Cut Tiro menyerukan agar barang siapa yang yakin akan Allah dan Rasul hendaklah berperang sabil ke Aceh Besar. Rakyat dianjurkannya untuk berpuasa tiga hari, membaca Quran dan mengadakan kenduri, memberi sedekah untuk menolak bala serta bertobat jika telah melanggar syariat Islam.
Dari kedua surat itu tampaklah adanya usaha untuk mempersiapkan orang Aceh supaya melakukan aksi kolektif berdasarkan keyakinan agama dan ditopang dengan dasar moral yang tinggi.
Dari kalangan pemimpin agama, terdapat misalnya Teungku Nyak Ahmad dari Gampong Cot Paleue, Pidie, mengubah karya sastra yang digolongkan dalam Hikayat Prang Sabil, yang isinya menyeru kaum muslimin untuk berperang melawan kafir Belanda berdasarkan keyakinan agama Islam. Hal itu seperti dijelaskan oleh Teungku Nyak Ahmad dalam hikayatnya adalah : soe prang kaphe lam prang sabi, niet peutinggi hak agama, kalimah Allah agama Islam, kaphe jahannam asoe nuraka, sabilullah geupeunan prang, Tuhan pulang page syeuruga, ikot suroh sampoe janji, pahala page that sampurna. (Yang memerangi kafir di medan sabil, niat meninggikan hak agama, kalimah Allah agama Islam, kafir jahannam isi neraka, Sabilillah dinamai perang, Tuhan berikan akhirnya surga, mengikuti suruhan sampai ajal, pahala nanti sangat sempurna.
Pada masa perang Belanda Hikayat Prang Sabil dibaca di dayah-dayah, di meunasah-meunasah atau di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi berperang. Di Aceh di daerah yang diduduki Belanda orang membaca hikayat perang secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyebarkan isinya tidak hanya disampaikan dengan membaca, tetapi naskah hikayat itu disalin berkali-kali dan diusahakan tersebar ke pelbagai pelosok tanah Aceh.
Melalui penyebaran ideologi perang sabil, para ulama berusaha menggugah rakyat menjadi lebih dinamis dalam menghadapi musuh. Strategi yang dijalankan adalah menumbuhkan kemauan keras untuk berperang yang berlandaskan agama Islam. Dari itu timbullah keberanian yang memungkinkan orang bersedia menempuh penderitaan guna mempertahankan prinsip-prinsip hidup. Di samping itu timbul pula kebencian yang tiada tara kepada musuh dan kecintaan yang mendalam kepada agama dan bangsa.
Usaha yang sejajar diperankan pula oleh sekelompok cendikiawan yang mahir dalam sastra. Sebagian dari mereka adalah pembawa pantun dan hikayat yang mempunyai fungsi menghibur masyarakat tanpa membaca teks. Salah seorang di antaranya adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Bahan-bahan yang sudah terpatri dalam ingatannya tidak pernah sama benar dengan yang pernah dibawakan sebelumnya. Di sana-sini ada yang dikuranginya, adapula yang ditambahkannya dengan bahan-bahan lain dari waktu ke waktu sesuai dengan bahan yang diperolehnya dari saksi-saksi mata. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.
Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.
Contoh Hikayat Prang Compeni :
Pada masa nyan raja that adee,
Hana seunabee hukoom that seunang
Meuneukat murah reundah bukon lee
Are pih sabee nibak timbangan
Sigeunap uroe kapai jiteuka
Jak maniaga nggroe suloothan
Muwatan peunooh jiwoe ngon jiba
Rakyat that muqa nibak masa nyan
Kapai di bumoe di nanggroe Cina
Geunap uroe na troh kapai dagang
U Banda Aceh jadeh jiteuka
Keudeeh u Daya nanggroe keuluwang
Meusyeuhu meugah ban saboh doonya
Trooh u Ierupa nama meuguncang
Teuma teupikee raja Beulanda
Aceh meurdeehka jikeumeung jak prang
Meunan ka leumah jisah lam dada
Raja Beulanda jieek gurangsang
Jipeuduek rapat pakat panglima
Pulo Sumatra jikeuheundak guncang
Raja Kuneng masa nyan raja
Sangat leupah kha hana soe lawan
Oh saree habeeh bandum meusapat
masa nyan deelat phoon buka kalam
geutanyoe bandum jinoe tabeudoh
Aceh tareuloh nanggroe tajak prang
Gata Rasid’en seureuta Uboh
Tatimang beujroh sabda lon tuwan
U Banda Aceh jadeh tateuka
Rakyat dum taba dengon siresan
Padum nyang rakyat nyang kuasa
Cuba takira wahee kapitan
Teuma jiseuoot jisamboot sabda
Lamong ribee sa sidadu sajan
Teuma oh lheuh nyan laeen takira
Tame lom tantra meribee hujan.
Dokarim
Rujukan :
Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta : Beuna, 1983
Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987
Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis, (terj. Ng. Singarimbun), Jakarta : Yayasan Soko Guru, 1985
Penulis: Sudirman, peneliti Balai Pelestarian Sejarah & Nilai Tradisional (BPSNT) Aceh.

JANGAN LUPA